Pemerintah Andalkan Ekspor dan Investasi
Penanaman Modal AMRIZAL, S.Sos(Dinas Penanaman Modal & Pelayanan Terpadu Satu Pintu) 21 Juni 2017 14:55:08 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan ekspor dan investasi menjadi tulang punggung pencapaian target pertumbuhan ekonomi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, yang dipatok 5,4-6,1 persen. “Target itu mencerminkan kombinasi antara optimisme karena adanya potensi, sekaligus kehati-hatian sebab masih ada ketidakpastian global,” kata dia saat menanggapi pandangan fraksi-fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat mengenai Rancangan APBN 2018, di gedung parlemen, kemarin.
Sri mengatakan perbaikan ekspor akan menopang target pertumbuhan. Hal ini terjadi seiring dengan pertumbuhan sektor pertanian yang diproyeksikan mencapai 4 persen mulai tahun depan serta sektor pertambangan yang bisa bertumbuh 1,4-1,7 persen. Untuk mendorong ekspor, pemerintah akan berfokus pada penjualan produk manufaktur dan komoditas sumber daya alam yang bernilai tambah serta memperluas pasar.
Pemerintah, kata Sri, juga akan menjaga belanja modal di bidang infrastruktur yang dapat meningkatkan produktivitas. Dia pun menargetkan investasi bisa naik hingga 8 persen setelah belanja infrastruktur menunjukkan hasil positif mulai tahun ini dan diraihnya predikat layak investasi dari tiga lembaga pemeringkat kelas dunia.
“Dengan peningkatan investasi, maka kapasitas produksi meningkat dan lapangan kerja baru dapat diciptakan,” ujarnya.
Di luar faktor pendorong, Sri mewaspadai sentimen negatif dari kondisi geopolitik beberapa kawasan, seperti Timur Tengah, yang akan mempengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah. Selain itu, kata dia, masih ada potensi tekanan inflasi yang berada di interval 2,5-
4,5 persen pada 2018 akibat kenaikan harga bahan pangan dan biaya-biaya yang ditentukan pemerin-tah.“Kabar baiknya, sebagian volatile food mengalami penurunan harga sehingga dapat berkontribusi untuk menekan inflasi.”
Sebelumnya, DPR menganggap target pertumbuhan ekonomi 2018 yang disusun pemerintah terlalu optimistis. Anggota DPR dari Partai Demokrat,Vema Gladies Merry Inkiriwang, menjelaskan, perekonomian global belum sepenuhnya pulih.’’Pencapaian ekonomi 2016 dan 2017 itu cenderung stagnan. Jadi, menurut kami target 2018 terlalu optimistis,” katanya.
Adapun Gubernur Bank Indonesia, Agus D. W. Martowrardojo, memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2018 berada di kisaran 5,1-5,5 persen. “Semua kami kaji, dari sisi
konsumsi, investasi, ekspor, dan impor. Tapi memang prediksi kami lebih moderat,” ujarnya seusai rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR. Ihwal nilai tukar rupiah, BI memperkirakan posisinya berada di rentang 13.300-13.700, atau lebih kuat daripada asumsi makro RAPBN 2018 sebesar 13.400-13.800.
Agus mengatakan, pada 2018, kondisi perekonomian dunia tidak akan lebih baik secara keseluruhan dibanding tahun ini. Khusus untuk Indonesia, kontribusi ekspor akan mulai membaik seiring dengan kembali meningkatnya harga-harga komoditas. “Konsumsi juga akan tetap kuat pada 2018.”
Dalam laporan “Global Economic Prospect” edisi Juni 2017 yang dipublikasikan pada Senin lalu, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus melesat dari 5 persen pada 2016 menjadi 5,2 persen dan 5,3 persen pada 2017-2018. Bank Dunia menyebutkan empat faktor eksternal yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, yakni meningkatnya ekspor, perbaikan sektor swasta pasca-pemulihan ekonomi global, harga komoditas yang moderat, dan membaiknya kepercayaan investasi.
Sumber: Koran Tempo